Agustus 2017, Aceh Alami Inflasi Sebesar 0,16 Persen

Ekonomi Rabu, 01 November 2017 - Oleh opt4

Banda Aceh - Pada bulan Oktober 2017, tiga kota di Provinsi Aceh mengalami inflasi. Ketiga kota yang mengalami inflasi tersebut yaitu Kota Banda Aceh sebesar 0,17 persen, kota Meulaboh sebesar 0,28 persen dan kota Lhokseumawe sebesar 0,10 persen. Secara agregat pada bulan Agustus 2017, Aceh mengalami inflasi sebesar 0,16 persen.

Informasi inflasi tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Wahyudin pada acara resume paparan Kepala BPS Provinsi Aceh di Aula BPS Aceh, Rabu (1/11/2017).

Menurut Wahyudin Inflasi yang terjadi di provinsi Aceh disebabkan oleh peningkatan indeks harga konsumen kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,97 persen, diikuti kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga sebesar 0,16 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,10 persen. Kelompok bahan makanan sebesar 0,07 persen, dan kelompok Kesehatan inflasi sebesar 0,03 persen.

Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami deflasi sebesar -0,14 persen dan  kelompok sandang deflasi sebesar 0,03 persen.

Laju inflasi tahun kalender Oktober 2017, terang Wahyudin, untuk kota Banda Aceh sebesar 3,45 persen. Kota lhokseumawe 0.85 persen, kota meulaboh 2,63 persen dan Provinsi Aceh 2,56 persen. Inflasi 'year on year' atau dari Oktober 2017 terhadap Oktober 2016 untuk kota Banda Aceh adalah sebesar 4,34 persen, kota lhokseumawe 3,46 persen, kota meulaboh 3,11 persen, dan provinsi Aceh 3,92 persen.

"Komponen inti untuk Provinsi Aceh pada Oktober 2017 mengalami inflasi sebesar 0,21 persen, komponen yang harganya diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,12 persen dan komponen bergejolak juga mengalami inflasi 0,06 persen," pungkasnya.

Lebih lanjut Wahyudin mengatakan beberapa komoditas di Provinsi Aceh yang mengalami kenaikan harga pada bulan Oktober 2017 antara lain adalah nasi dengan lauk dengan andil sebesar 0,0883 persen, tongkol sebesar 0.0467 persen, cumi-cumi sebesar 0.0381 persen, jeruk sebesar 0,0347 persen, ikan goreng sebesar 0,0244 persen, upah tukang bukan mandor sebesar 0,0211 persen, dan angkutan udara sebesar 0,0407 persen.

"Sedangkan beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain adalah semen dengan andil sebesar -0,0801 persen, udang basah sebesar -0,0290 persen, dencis sebesar 0,0245 persen, kacang panjang sebesar -0,0147 persen, dan daging ayam ras sebesar -0,0146 persen," katanya.

Dari 82 kota di Indonesia yang dipantau harganya pada Oktober 2017, tercatat 44 kota mengalami inflasi dan 38 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Tual sebesar 1,05 persen dan yang terendah di kota cilegon sebesar 0,01 persen. Secara urutan terhadap 82 kota, kota meulaboh pada urutan ke-10, kota Banda Aceh berada pada urutan ke-16, dan kota Lhokseumawe pada urutan ke-25.

Sedangkan bila dilihat dari 23 kota di Sumatera, 20 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Batam sebesar 0,72 persen dan yang terendah di kota Jambi Sebesar 0,05 persen. Deflasi tertinggi terjadi di kota bengkulu sebesar -0,12 persen. (ri/wan/rd)

Sumber : diskominfo.acehprov.go.id

 

Last Update Generator: 23 Nov 2017 12:02:08