Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Aceh

Revitalisasi Kesenian, Pemerintah Aceh Apresiasi Kemendikbud dan BPNB

Seni, Budaya & Hiburan Kamis, 24 November 2016 - Oleh opt1

Banda Aceh – Pemerintah Aceh mengapresiasi langkah Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh, yang telah merevitalisasi empat kesenian asli Aceh yang hampir punah.

Hal tersebut disampaikan oleh oleh Asisten II Sekda Aceh Drs Zulkifli Hs, saat membacakan sambutan tertulis Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Mayjen (Purn) TNI Soedarmo, pada Pembukaan Pagelaran Revitalisasi Seni yang Hampir Punah di Aceh, yang di pusatkan di Komplek Taman Budaya Banda Aceh, Selasa (22/11/2016) malam.

“Mudah-mudahan kegiatan ini dapat menginspirasi kita untuk semakin peduli dengan budaya daerah, sehingga kita dapat melakukan aksi nyata dalam melestarikan dan mengembangkan karya-karya seni asli Aceh,” ujar Zulkifli.

Untuk diketahui bersama program revitalisasi kesenian yang hampir punah di Aceh, dilakukan oleh Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bersama BPNB Aceh, telah berlangsung sejak awal tahun 2016.

Kedua lembaga ini juga telah melakukan beberapa tahapan kegiatan untuk merevitalisasi kesenian-kesenian yang hampir punah tersebut, di antaranya survey, rapat koordinasi, kajian dan penulisan, pelatihan, sarasehan dan monitoring.

Dari upaya tersebut, setidaknya saat ini ada empat kesenian yang menjadi sasaran penggalian dan revitalisasi yang telah dilakukan BPBN Aceh, yaitu Tari Laweut dari Banda Aceh, Rapa’i Geurimpheng dari Pidie, Tari Landoq Sampot dari Aceh Selatan dan Tari Sining dari Aceh tengah.

“Begitu banyaknya karya-karya seni yang ada di Aceh, sehingga terkadang kita lalai untuk merawatnya. Akibatnya, ada beberapa kesenian yang mulai terlupakan. Kalau saja tidak digali kembali,  mungkin karya-karya seni yang sudah sangat tua itu akan punah. Beruntungnya, kita memiliki BPNB Aceh yang peduli dalam karya-karya seni tradisional ini,” kata Zulkifli.

Berkat penggalian dan penelusuran yang telah dilakukan kedua lembaga ini, karya-karya seni yang hampir punah karena sangat jarang dipentaskan itu telah dapat dimunculkan kembali di ruang publik.

“Insya Allah, pada malam ini karya-karya seni yang hampir punah itu dapat kita saksikan dan nikmati bersama dalam sebuah pagelaran khusus yang digagas para seniman Aceh, BPNB Aceh dan Direktorat  Kesenian  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Mengingat banyaknya karya seni yang berkembang di Aceh sejak ratusan tahun lalu, Zulkifli menekankan, sangat mungkin masih banyak kesenian lokal yang terancam punah. Dengan keterbatasan tim serta luasnya cakupan wilayah yang ditangani, Zulkifli mengakui kerja BPNB tidak mudah untuk bisa memantau secara maksimal.

“Oleh sebab itu, saya menghimbau masyarakat dan pecinta seni di seluruh Aceh agar mau melaporkan kepada BPNB atau kepada lembaga kesenian terdekat, jika menngetahui ada kesenian lokal yang mulai punah. Masyarakat harus aktif melaporkan, agar BPNB dan Pemerintah Aceh dapat bergerak cepat untuk merevitalisasi karya seni tersebut, sambung Zulkifli.

Dari penggalian ini, lanjut Zulkifli, selanjutnya kita akan melakukan upaya pelestarian, sehingga seni itu tidak akan punah dan dapat dimunculkan kembali di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, peran aktif masyarakat sangat diharapkan, agar budaya dan identitas daerah sebagai bagian dari kekayaan bangsa dapat dipertahankan.

“Semoga perjuangan ini memperoleh hasil maksimal sehingga semua karya seni tradisional di daerah kita tetap terjaga keberadaannya. terimakasih atas dukungan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Mudah-mudahan dukungan ini dapat memperkuat motivasi kita untuk lebih peduli terhadap setiap karya seni di daerah ini,” pungkas Zulkifli.

Sementara itu, Endang Caturwati selaku Direktur Kesenian Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, dalam sambutannya menjelaskan, keempat jenis kesenian tersebut akan ditampilkan di sanggar-sanggar pada sekolah-sekolah yang telah dilatih sejak awal 2016 lalu.

“Pagelaran yang kita laksanakan malam ini merupakan tahapan akhir, dari program revitalisasi empat kesenian yang hampir punah di Aceh, yang telah kita laksanakan sejak maret lalu,” ujar Endang.

Endang menambahkan, kegiatan rehabilitasi kesenian ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kesenian yang hampir punah, baik yang disebabkan oleh konflik yang berkepanjangan maupun disebabkan oleh arus globalisasi yang telah menembus sekat-sekat budaya.

“Konflik telah mengakibatkan seniman Aceh kala itu kesulitan mempertahankan eksistensinya karena kesulitan latihan maupun pementasan. Sedangkan era globalisasi telah menembus sekat-sekat budaya kita hingga ke pelosok,” tambah Endang.

Oleh karena itu, sambung Endang, upaya revitalisasi dan pendokumentasian kembali, baik secara tekstual maupun visual terhadap kesenian yang hampir punah di Aceh sangat perlu dilakukan.

Sumber : humas.acehprov.go.id

 

Last Update Generator: 22 Aug 2017 00:28:38