Siti Ambia ‘Srikandi’ Singkil

Kategori : Pahlawan Jumat, 06 Desember 2013 - Oleh

PEPERANGAN Belanda dengan Aceh (1873-1942), telah menguras tenaga dan biaya, serta menewaskan ribuan prajurit dan rakyat biasa. Sejarahwan Paul van’t Veer mencatat bahwa hingga 1914 saja tak kurang dari 37.500 prajurit Belanda yang tewas di Aceh, dan 500.000 lainnya mengalami luka-luka.

Lazimnya suatu peperangan, tentu melahirkan pejuang-pejuang. Pejuang-pejuang tersebut, tidak saja pejuang pria melainkan juga memunculkan tidak sedikit pejuang-pejuang wanita, seperti Laksamana Malahayati, Cut Meutia, Cut Nyak Dhien, Tengku Fakinah, Pocut Baren Biheue.

Pejuang-pejuang wanita itu, sangat berperan dan terlibat langsung dalam kancah peperangan. Ada yang menjadi prajurit dan ada pula yang menjadi panglima perang. Paling tidak, mereka membantu kaum pria di garis belakang peperangan seperti menyediakan makanan dan memberi motivasi supaya suami dan anak-anak mereka mau berperang melawan penjajah.

Peran wanita-wanita Aceh dalam kancah peperangan ini, dinukilkan oleh Zentgraaf dalam bukunya De Achers; “Namun dari semua pemimpin perang yang telah bertempur di setiap pojok dan lubang kepulauan Indonesia ini akan mendengar bahwa tidak ada suatu bangsa yang begitu bersemangat dan fanatik dalam menghadapi musuh selain bangsa Aceh dengan wanita-wanitanya yang jauh lebih unggul daripada semua bangsa lain dalam keberanian menghadapi maut.”

Dari tulisan Zentgraaf, seorang wartawan Belanda pensiunan Bintara kolonial ini, mengakui bahwa wanita-wanita Aceh sangat gigih, tanpa rasa takut melakukan perlawanan terhadap Belanda. Sehingga wanita Aceh lebih ungggul dari semua wanita bangsa lain.

Bangsa Belanda betul-betul, kagum terhadap wanita-wanita Aceh yang terjun dalam kecamuk dan kronika perang. Karena kekaguman tersebut, Belanda menyebut para pejuang wanita Aceh itu sebagai de grootes dames (wanita-wanita agung).

Perang Batubatu

Dari penelusuran yang penulis lakukan, de grootes dames ini, ternyata juga, muncul dari kecamuk perang yang terjadi antara Belanda dengan rakyat Singkil, tepatnya dalam perang Batubatu. Pejuang wanita itu, bernama Siti Ambia.

Siti Ambia bersama dengan para prajurit pria di daerah itu, ikut berjuang melepaskan Singkil dari cengkeraman penjajah. Sehingga pertempuran adalah bagian dari kisah hidup perempuan perkasa yang dilahirkan di daerah aliran sungai Singkil ini.

Kapan lahir Siti Ambia, tidak diketahui secara pasti, diperkirakan pada 1870-an. Tentang silsilah atau asal-usul Siti Ambia dan keluarganya juga belum ditemukan referensinya. Berdasarkan tuturan dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat mengatakan, bahwa Siti Ambia sosok wanita gagah perkasa dan sangat berani.

Dalam usia belia, Siti Ambia telah terlibat langsung bertempur dalam kancah peperangan bersama kaum laki-laki seperti Raja Batubatu, Sultan Daulat, Teuku Pane, Pa Onah, Juhur, Timang, dan para pejuang dari kerajaan-kerajaan Singkil lainnya. Dalam melawan kolonialisme, Siti Ambia memperlihatkan keberanian dan semangat heroisme yang tinggi.

Melalui kemanunggalan Siti Ambia bersama rakyat dalam perang gerilya, membuat kolonialis berputus asa. Kalau diibaratkan, kepiawaian Siti Ambiah dalam berjuang melawan Belanda, ketika itu, bagaikan kecerdikkan gerilyawan Vietnam dalam film Rambo, ketika berperang dengan Amerika.

Diceritakan, pada 1896, sejumlah pasukan Belanda dengan menaiki armada perahu, melalui sungai Singkil, menyerang Kerajaan Batubatu di daerah hulu sungai Singkil. Tetapi, serangan yang dilancarkan Belanda ini sedikit pun tidak berhasil mematahkan perlawanan  serdadu kerajaan. Armada perahu Belanda, berhasil ditenggelamkan dan dihancurkan. Prajuritnya banyak yang tewas. Sehingga, sungai Singkil, saat itu warna airnya bercampur menjadi merah darah dan banyak mayat-mayat yang mengapung hanyut ke hilir sungai.

Hancurnya armada perahu dan banyaknya tewas prajurit Belanda ini, karena kerajaan Batubatu ini menggunakan taktik perang “tebang pohon” yang sebelumnya tidak pernah terbaca dalam kamus peperangan oleh pihak Belanda. Pohon-pohon besar yang terdapat di bantaran pinggir sungai Singkil ditebang terlebih dulu, kemudian pohon ini tidak langsung direbahkan. Tetapi ditahan dengan seutas tali yang diikat pada pohon lain.

Begitu perahu tentara Belanda melaju melalui aliran sungai, tali penahan yang diikat pada pohon lain tadi diputuskan. Pohon pun bertumbangan  sehingga menimpah perahu-perahu tentara Belanda. Perahu menjadi oleng dan karam, perajurit pun kelimpungan dan banyak yang tenggelam. Dalam keadaan terapung di sungai, serangan pun datang dari serdadu kerajaan. Belanda kalah dan patah arang.

Peperangan antara Belanda dengan rakyat Singkil ini, meskipun tidak seimbang baik dari segi perlengkapan perang maupun dari segi jumlah prajurit terlatih. Namun rakyat Singkil sebagaimana rakyat Aceh lainnya, tidak pernah menyerah apalagi takluk pada Belanda. Salah satu prajurit kerajaan yang tidak pernah takluk pada Belanda itu, adalah Siti Ambia.

 Panggilan iman

Tangguh dan beraninya, Siti Ambia dalam melawan penjajah Belanda, karena ruh spritual berupa panggilan iman, telah merasuk dalam jiwa Siti Ambia. Konsep hubbul wathan minal iman pun telah tertanam dan berkobar kuat dalam dada Siti Ambia. Sehingga Siti Ambia termotivasi dan terinspirasi untuk menghadapi imprealisme Belanda.

Berbekal itulah, pertempuran demi pertempuran dapat dilakukannya dengan semangat gagah berani. Keberanian Siti Ambia berperang melawan Balanda bersama kaum pria, merupakan suatu simbol bahwa di Singkil telah terjadi gerakan emansipatif atau kesamaan gender yang kerap disuarakan oleh RA Kartini.

Siti Ambia telah mengukir tanda jasa dalam lembaran sejarah Singkil  dan Aceh khususnya serta Indonesia umumnya. Karena jasanya itu,  nama Siti Ambia ini dijadikan nama sebuah pemukiman di derah aliran sungai Kecamatan Singkil. Ini dimaksudkan agar generasi muda mengetahui bahwa di Aceh Singkil, ada srikandi yang tak kalah heroiknya dengan pejuang wanita dari daerah lain.

* oleh Sadri Ondang Jaya, S.Pd, Guru SMA Negeri 1 Singkil, Aceh Singkil. Email: ayah.abel@yahoo.co.id

Sumber : http://acehsingkilkab.go.id