Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Aceh

Uroe Peukan pun Kian Mentradisi

Kategori : Adat dan Budaya Kamis, 03 Oktober 2013 - Oleh acehprov

PEPATAH garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, mungkin  bisa diganti dengan bersua di uroe pekan yang sudah mentradisi selama bertahun-tahun di Pidie dan Pidie Jaya. Tradisi ini terus dipertahankan agar perputaran uang bisa berpindah-pindak dari satu tempat ke tempat lainnya serta untuk membangkitkan perekonomian masyarakat setempat.

Hari-hari pekan (uroe pekan) sudah begitu terhafal dalam pikiran sejumlah pedagang lepas di Pidie dan Pidie Jaya. Suryadi (32) asal Beurenuen misalnya, ia begitu ingat ketika ditanyai dimana berlangsungnya hari pekan sejak hari Senin hingga hari-hari berikutnya.

ìMinggu di Lueng Putu, Senin di Trienggadeng, Selasa di Ulee Gle, Rabu di Meureudu, Kamis di Paru Keudee. Kalau hari Jumíat libur, baru dilanjutkan uroe pekan besar-besar pada hari Sabtu di Beureunuen,î ujarnya, Kamis (8/4).

Pada uroe pekan itu, terang dia, para pedagang yang menjual dagangannya berasal dari laut seperti garam atau dari gunung berupa asam, bertemu di uroe pekan. ìMemang tidak hanya menjual hasil bumi dari laut dan gunung, tapi semuanya ramai di uroe pekan. Seperti saya ini hanya menjual pakaian,î jelas pedagang lainnya.

Menurut dia, tradisi uroe pekan tersebut perlu dipetahankan oleh generasi-genarasi pedangan mendatang. Sebab, tradisi itu banyak bisa memudahkan masyarakat dalam bertransaksi jual beli serta akan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pada hari itu, nyak-nyak yang menjual asam serta sayur mayur mayur akan bertemu dengan nyak-nyak yang menjual garam. Tradisi ini juga menjadi ajang silaturrahmi bagi sesama pedagang yang sudah biasa berjualan di uoe pekan,î demikian terang Suryadi.(Serambi Indonesia)

 

Last Update Generator: 17 Oct 2017 18:03:53