Banda Aceh - Tahun ini tercatat 726 putra-putri Aceh yang sedang melanjutkan studi program magister (S2) dan doktoral (S3) di luar negeri (LN), terbanyak di Timur Tengah. Beasiswa diperoleh dari Komite Beasiswa Aceh. Mereka ini direkrut dari dosen, PNS, guru, dan umum.
Ketua KBA, Dr Qismullah Yusuf MA, yang dihubungi Serambi, Selasa (2/2) sore di kantornya menyebutkan, dari 726 putra-putri Aceh yang sedang mengikuti program S2 dan S3 di luar negeri itu, 420 di antaranya studi di Timur Tengah. Dari jumlah tersebut, - 15 persen di antaranya memperoleh beasiswa penuh.
Beasiswa penuh berarti seluruh biaya yang dibutuhkan oleh mahasiswa S2 dan S3 untuk studi di luar negeri, terniasuk biaya hidup dan bell buku, ditanggtmg sepenuhnya oleh pihak pemberi beasiswa. Sedangkan penerima beasiswa tidak penuh, hanya ditanggung biaya hidup dari Pemda Aceh, sedangkan biaya pendidikan ditanggung negara atau univeisitas ditempat mereka belajar.
Sedangkan untuk pengrekrutan, Qismullah menjelaskan setamat dari pendidikan mereka yang masih terikat kerja dengan instansi akan kembali bekerja di instansinya. Sedangkan yang dari umum yang belum bekeija, setamat pendidikan mereka diharuskan bekerja di Aceh sesuai kontrak yang telah disepakati. "Jika mereka ingin kerja di luar Aceh maka mereka hams melapor dulu ke gubemur Aceh," jelasnya.
Selain itu, kata Qismullah, di Malaysia terdapat 158 putra-putri Aceh yang sedang ikut program S2 dan S3, di Australia 68 orang, Jerman 37, Taiwan 23, Eropa 15 orang, Amerika clan Kanada masing-masingdua orang, serta Jepang satu orang. Selain itu, masih terdapat 814 putra-putri Qceh penerima beasiswa yang kini mengikuti ' program S l, S2, clan S3 di dalam negeci. Persebaran nicre ka terbanyak di perguruan tinggi negeri (P'1N) di Pulau Jawa.
Saat ini, kata Qismt.illah, jumlah penerima beasiswa penuh dalam negeri tahun 2008 dan 2009 untuk S1 sebanyak 742 siswa, S2 ter catat 66 orang, dan S3 se banyak 6 orang.
Beasiswa Taiwan
Qismullah menambahkan, pada tahun 2010 Pemerintah Taiwan memberikan bantuan beasiswa kepada 90 mahasiswa, dan 40 dokter dan ahli bedah di Aceh. Menurut Qismullah, peluang ini sangat bagus bagi Aceh. Sebab rumah sakit di Aceh masih kekurangan ahli bedah, terutama di RSU dr Zainoel Abidin.
"Pemerintah Taiwan memberikan bantun lima paket tahun ini. Satu paket terdiri atas delapan 8 orang. Dua dokter spesialis, empat perawat, satu dokter anestesi, dan satu ahli perawatan alat bedah. Taiwan juga memberi bantuan beasiswa S2 dan S3 sebanyak 90 orang," jelas Ketua KBA yang SK-nya telah berakhir pada 31 Desember 2009.
Sesuai keinginan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dalam meningkatkan SDM maka program pembelajaran bagi ahli medis dicanangkan tahun ini. Akhir Desember 20091a1u, KBA pun melakukan pengajuan ke Malaysia, Thailand, danTaiwan. "Kita coba ke Malaysia dan Thailand, kedua negara ini belum menyanggupinya. Alhamdulillah Taiwan menyanggupinya. Taiwan tidak saja memberi pelatihan, tetapi mereka juga memberi beasiswa," kata Qismullah kepada Serambi
Diajukan Rp 182 M
Untuk anggaran beasiswa ke luar negeri pada 2010 ini, KBA mengajukan anggaran sebesar Rp 182 miliar, bagi mahasiswa S2 dan S3 yang sedang belajar serta yang mengikuti program baru. Namun sampai saat ini, Qismullah mengatakan anggaran yang diajukan belum disahkan lagi oleh DPRA.
Qismullah mengatakan pendaftaran untuk tahun ajaran baru di universitas di luar negeri sudah dibuka sejak Januari hingga April 2010. Seperti yang sudah-sudah, anggaran beasiswa keluar setelah pendaftaran ditutup.
"Kita takutkan hal ini terjadi lagi tahun ini. Jika anggaran keluar namun pendaftaran sudah ditutup, maka kita kembali melakukan pengajuan permohonan kepada universitas bersangkutan untuk membuka kembali pendaftaran bagi mahasiswa kita. Dan ini bukan hal yang gampang," katanya secara tegas.
Program baru 2010, kata Qismullah ada tujuh program. Pertama, program untuk studi pertambangan, minyak, dan gas. Kedua, program untuk studi perikanan dan teknik kelautan. Ketiga, program studi untuk farmasi. Keempat program studi dan pelatihan ahli bedah di RSUZA. Kelima . program studi kedokteran bagi 12 kabupaten/kota di Aceh bagian Barat, Tengah, Selatan, dan Tenggara. Keenam, pelatihan bagi Pusat Peningkatan Mutu Guru (PPMG), dan ketujuh program studi. (Serambi Indonesia)

