MEUREUDU – Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Perbenihan Perikanan Air Tawar Batee Iliek, Kecamatan Samalanga, Bireuen, Sabtu (7/11) lalu, menebar sekitar 30.000 bibit ikan ke Krueng Batee Ilik. Penebaran itu dilakukan, karena dalam beberapa tahun terakhir populasi ikan air tawar sudah sangat berkurang di daerah setempat.
Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh melalui Kepala UPTD Batee Iliek, Ir Zulkifli, kepada Serambi mengatakan, dua jenis ikan yang dilepas di sungai tersebut, masing-masing sebanyak 15.000 ekor, yaitu bibit ikan nila dan bibit ikan mas. Penglepasan dilakukan dalam sebuah upacara sederhana disaksikan Camat, Danramil serta sejumlah tokoh masyarakat.
Seusai melepas puluhan ribu ekor bibit ikan nila dan ikan mas, kepada masyarakat setempat, Zulkifli mengharapkan agar keberadaan kedua jenis ikan dimaksud perlu dijaga kelestariannya. Dengan demikian, semua ikan itu dapat berkembang biak hingga lebih banyak lagi dan pada gilirannya menjadi konsumsi warga.
Hanya saja yang perlu diperhatikan, pengambilan ikan di sungai supaya tidak menggunakan bahan peledak. Karena kalau menggunakan bahan peledak atau cara meracuni, sebut Kepala UPTD, bukan hanya ikan yang sudah dewasa saja yang mati, tetapi juga semua jenis ikan dalam berbagai ukuran hingga yang terkecil pun ikut punah.
Jika itu sempat terjadi, katanya, maka dipastikan populasi ikan yang di sungai akan habis semuanya. “Karenanya, pengambilan ikan semacam itu sangat dilarang karena mengancam kelestarian alam,” papar Zulkifli. Ke-30.000 ekor bibit ikan tersebut berasal dari Balai Benih Ikan (BBI) Batee Iliek, Samalanga. Di balai tersebut, tak hanya bibit nila dan bibit ikan mas saja yang dipelihara, tetapi juga bibit bandeng air tawar. Saat ini, perkembangan ketiga jenis bibit ikan dimaksud cukup bagus, sehingga permintaannya terkadang hampir menyeluruh daerah di Aceh. Terlebih lagi bibit ikan bandeng air tawar yang tergolong banyak diminati.
Sebagai unit pembibitan, BBI akan berupaya keras untuk meningkatkan kapasitas produk. Dengan demikian, kelangkaan bibit ikan terutama nila, mas, dan bandeng tidak akan pernah terjadi lagi, dan permintaan masyarakat akan terpenuhi. Kecuali itu, beberapa kendala yang hingga kini masih dialami, semisal masih banyaknya kolam yang belum dibangun permanen dan kompleknya belum dipagari dengan baik. (serambinews.com)

