Beranda > Berita > Masyarakat & Sosbud > Aceh Butuh “Cut Meutia” Baru
Aceh Butuh “Cut Meutia” Baru
Kamis, 12 Nopember 2009 10:21:58 WIB

Aceh Utara - WANITA Aceh berpotensi membangun dunia, jika kini masih mempunyai sifat dan perilaku seperti Cut Nyak Meutia. Meski dalam sejarah hidupnya, perempuan tiga kali menjanda ini harus mengarungi lembah dan menetap di hutan untuk mempertahankan Aceh, namun putri Teuku Ben Daud dan Cut Jah atau Cut Mulieng itu, selalu siap mengorbankan harta dan jiwanya untuk memerangi penjajahan Belanda.

Sayangnya, setelah putri kelima dari lima bersaudara itu syahid pada tanggal 25 Oktober 1910 karena peluru belanda menembus kepala dan badannya, semangat juang dan sifat yang dimiliki perempuan berparas cantik ini, seakan tidak dimiliki lagi wanita Aceh saat ini. Padahal, Aceh membutuhkan sosok perempuan yang tak tergiur oleh kenikmatan dunia, tak tergoda oleh kekayaan harta benda seperti halnya Cut Meutia.

“Jika wanita Aceh sekarang masih memiliki sifat seperti pahlawan Aceh dulu, yang cinta terhadap rakyat dan dan relah mengobarkan kepentingan pribadi demi tanah air, wanita Aceh berpotensi untuk membangun dunia,” kata Teuku Rusli, cucu Cut Nyak Meutia dalam seminar menyongsong 100 tahun wafatnya Cut Nyak Meutia, di Replika Rumah Cut Meutia, Desa Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Selasa (11/11).

Putra Raja Sabi ini (anak Cut Mutia-red) dalam seminar tersebut menuturkan, hanya Aceh dalam wilayah Indonesia yang tidak mampu dijajah Belanda. Sedangkan daerah lain, bukan hanya dijajah tapi bahkan warganya ikut sebagai tentara Belanda untuk menjajah Aceh. Disebutkan pria yang kini menetap di Jakarta Selatan, Aceh memiliki sejarah masa lalu, tidak seperti negara lain.

Namun, kenapa sekarang tidak ada lagi? Tanya T Rusli di depan ratusan peserta seminar yang dihadiri Darwati A Gani (isteri Gubernur Aceh), Dewi Meutia (Isteri Wagub Aceh), dan Hj Raihan Putri (Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh). Padahal, kata T Rusli, salah seorang pejabat tinggi Belanda, Dr Pekar, pernah mengungkapkan kepadanya bahwa mereka heran dengan perempuan Aceh, yang rela menderita bertahun-tahun berperang untuk melawan penjajah. Mereka heran dengan semangat heroik perempuan Aceh.

Sebelum seminar usai, Darwati A Gani meminta kepada seluruh kaum perempuan di Aceh untuk tetap memelihara dan menumbuhkembangkan semangat Cut Nyak Meutia dalam sanubari masing-masing. “Semoga ke depan akan lahir perempuan-perempuan Aceh seperti sosok Cut Nyak Meutia. Semoga ke depan akan lahir Cut Meutia baru yang dapat mengisi pembangunan Aceh ke arah yang lebih baik,” harap Darwati A Gani.(serambinews.com)

Terakhir Diperbaharui Kamis, 12 Nopember 2009 10:21:58 WIB